Tepis Aji Mumpung, Novi: Ini Moment Kebangkitan Perempuan di Sumbawa

0
193

DEWI Noviany menjadi satu-satunya tokoh perempuan yang akan maju menjadi calon Wakil Bupati Sumbawa pada Pilkada Desember 2020 mendatang. Untuk itu dia memilih mundur dari kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dia lompat ke politik. Ada pihak menilainya karena aji mumpung karena kakaknya H Zulkieflimansyah duduk sebagai Gubernur NTB? Berikut petikan wawancara Lombok Post (Radar Sumbawa Group)

Ada yang mendesak Mbak Novi mundur dari ASN?

Kemarin Mbak ajukan permohonan pengunduran diri tanggal 23 Juni, sekalian konsulitasi ke pak Kaban (BKD NTB). Pengunduran itu karena keinginan pribadi. Tetapi sepertinya proses (sampai mundur) akan lama. Harus dilaporkan ke BKN.

Tapi karena saya ingin maju di Pilkada dan sebagai bentuk kenetralitas ASN saya harus mundur,”

Berarti akan masih tetap ngantor?

“Ya sepertinya harus seperti itu. Kalau sudah ditetapkan diberhentikan baru keluar. Saya mundur juga hasil konsultasi ke ahli di KPU dan Bawaslu. Tapi yang penting kita sudah ajukan permohoan. Persolan cepat atau lambat (diberhentikan) biar itu jadi urusan BKN,”

Iya. Memang butuh proses.

“Yang penting kita sudah selesai kewajiban kita. Supaya saya juga bisa tenang ikuti proses Pilkada. Selama ini kita ada Persoalan Pegawai Negeri (yang mengganjal).

Ya memang melekat di kita fasilitas negara. Tapi saya pastikan tidak pernah pakai fasiltas kantor (selama mempersiapkan diri ke Pilbup Sumbawa),”

Mengapa tertarik terjun di Politik?

“Saya ingin ikhtiarkan keterwakilan perempuan. Kita ingin buat sejarah. (Calon pemimpin perempuan) belum pernah ada di Sumbawa. Saatnya perempuan berani tampil. Bima pemimpinnya perempuan, di Lobar pemimpinnya perempuan, Kota Mataram sekarang ada calon perempuan.

Kenapa Sumbawa tidak berani. Harus berani,”

Mungkinkah mumpung Bang Zul jadi Gubernur dan punya jaringan politik kuat?

“Nggak. Nggak ada itu. Jujur Pak Gub (H Zulkieflimansyah, Red) nggak pernah suruh-suruh (saya ikut Pilbup),”

Tapi kesempatan lebih terbuka karena jadi adik Gubernur?

“Pak Gub kan ndak pernah bersatemen seperti itu. Saya bismilah, karena saya lihat perempuan Sumbawa sekarang lebih berani,”

Ukuran keberaniannya?

“Di DPRD Sumbawa dari satu srikandi sekarang sudah jadi enam orang. Saya lihat ini momen kebangkitan perempuan (di Sumbawa). Bismillah. Itu yang membuat saya semangat. Ada kepercayaan masyarakat di Sumbawa bahwa perempuan sangat diandalkan untuk memimpin,”

Sumbawa masih belum menempatkan perempuan setara dalam politik?

“(Karena itu) saya akan mencoba keterwakilan perempuan. Selama ini perempuan cuma di Kasur, Dapur, dan Sumur.

Basic saya guru dari tahun 1999. Selama jadi guru saya melihat perempuan sangat diandalkan. Perempuan pergi ke Saudi (Pekerja Migran Indonesia cari nafkah), perempuan disuruh jaga adik laki-lakinya (kalau ada).

Perempuan segitunya. Dia berkorban untuk adiknya agar pendidikan bisa lebih tinggi. Tetapi dia sendiri harus rela tidak sekolah.

Lalu ada perempuan korban KDRT. Ketika mau dipersoalkan ke hukum, perempuan di paksa berdamai. Laki-laki egois sekali, urus adikmu, urus istrimu. Begitu. Tapi tidak pernah ada perubahan (strata sosial).

Pergi jadi TKI. Suaminya hidup foya-foya. Sementara di sana istrinya kerja keras untuk buah hatinya. Ini yang membuat saya berontak,”

Wah, para lelaki bisa tersindir nih.

“Tentu tidak semua. Tetapi harus diakui masih banyak seperti itu. Di Sumbawa masih banyak yang begitu. Harus ada yang bisa jadi contoh perempuan itu berdaya dan mampu bersaing. Tidak hanya jadi masyarakat kelas dua,”

Kalau tetap di ASN kan kesempatan naik jabatan terbuka, kata orang ada Pak Gub?

“Rezeki dan kematian sudah di tangan Allah. Saya berjuang untuk hal yang membuat saya gundah dan tidak tenang selama ini. Perempuan selalu dibuat posisinya kalah oleh lelaki.

Saya lihat banyak suami sewenang-wenang dalam bersikap. 13 tahun dampingi suami jadi Camat. Saya lihat perempuan sangat memprihatinkan. Jadi tukang bata, buruh bangunan, bakar-bakar batu merah, naikkan ke truk L 300. Itu perempuan semua. Kesannya eksploitasi perempuan,”

Tetapi sudah minta restu dari suami?

“Restu dari suami sudah. Support. Tidak jadi pejabat tidak apa-apa. Yang penting saya sudah berjuang. Ini kesempatan saya. Kalau bukan sekarang sudah tidak ada waktu lagi.

Usia saya sudah 47 tahun, saya sudah tidak muda lagi. Kalau memang karir saya sebagai ASN harus selesai ya sudah, (begitupun kalau kalah di Pilkada) saya serahkan pada Allah,”

Oh ya, Mbak Novi berapa bersaudara?

“Saya empat bersaudara. Yang pertama itu Pak Gub, baru saya. Sementara yang nomor tiga Embuk Hidayati umur 7 tahun meninggal. Nomor empat Yudit Alkadri usia 5 tahun meninggal juga,”. (zad/r2/jar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here