Blended Learning di Masa Pandemi, Obat Rindu Anak Usia Dini

0
77
Oleh : Fairuz, Mahasiswi Program Studi S1 PGPAUD
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka UPBJJ Mataram

Berawal dari seorang teman satu profesi sebagai guru dan bekerja di sekolah yang sama adalah guru terpilih yang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) masa pandemic ini, beliau menceritakan tentang tugasnya yang menggunakan Metode Banded Learning penulis pun ikut membantu dalam pembuatan bahan pembelajaran dan video pembelajaran Blanded Learningnya dengan berperan sebagai orang tua murid.

Mengingat hal ini cukup baru dilakukan terutama pada pendidikan anak usia dini terutama di daerah saya. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dan cerita teman teman sesama guru dan sesama mahasiswa bahwa di sekolah mereka belum ada yang menggunakan metode Blanded Learning di masa pandemic Covid 19 ini, walaupun ada mungkin masih baru dan sebagian kecil.

Selain sebagai guru penulis juga sebagai mahasiswa dan salah seorang dosen/tutor tempat saya kuliah adalah dosen Unram yang saat ini membimbing dan mendampingi guru guru peserta PPG tahun Pandemi ini. Beliau pernah menyinggung tentang Metode Blended Learning maka dari itu penulis mencari tahu apa itu metode pembelajaran Blaended Learning.

Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu Blended yang berarti campuran dan Learning yang berarti pembelajaran. Dengan demikian sepintas lalu blended learning mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya dalam pembelajaran. Mosa dalam Kumar (2006) menyampaikan bahwa yang dicampurkan dalam blended learning yaitu dua unsur utama, yakni pembelajarna di kelas (classroom lesson) dengan online learning.

Blended learning yaitu metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis. Perpaduan antara pembelajaran konvensional di mana pendidik dan peserta didik bertemu langsung dengan pembelajaran secara online yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Adapun bentuk lain dari blended learning adalah pertemuan virtual antara pendidik dengan peserta didik.

Dimana antara pendidik dan peserta didik mungkin saja berada di dua tempat yang berbeda, namun bisa saling memberi feedback, bertanya, atau menjawab. Semuanya dilakukan secara real time.
Carman, (2005) mengungkapkan bahwa terdapat lima kunci untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan blended learning:

  1. Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengkombinasikan teori behaviorisme, kognitivism dan konstructivism sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.
  2. Mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat disampaikan secara online (melalui web maupun melalui mobile device dalam bentuk: streaming audio, streaming video, dan e-book) maupun offline (dalam bentuk CD, dan cetak).
  3. Mengkombinasikan baik pendidik maupun peserta didik yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/.Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar teman sejawat atau kolaborasi antar peserta didik dan pendidik melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, dan mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving dan project-based learning.
  4. Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis penilaian baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio). Disamping itu, juga perlu mempertimbangkan ramuan antara bentuk-bentuk assessmen online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan penelitian tersebut.
  5. Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, perhatikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak. Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3 dan DVD) maupun secara online. Jika pembelajaran dibantu dengan suatu
    Pelaksanaan belajar secara daring di PAUD lebih dikenal dengan istilah Belajar Dari Rumah (BDR) yang diselenggarakan di rumah oleh keluarga bersama anak dengan petunjuk dan dampingan guru jarak jauh. Jika sebelumnya layanan PAUD lebih fokus pada hubungan antara keluarga dan sekolah, maka covid-19 mengajarkan semua pihak untuk mengimplementasikan PAUD yang sesungguhnya dengan memperhatikan hubungan timbal balik antara lembaga, keluarga, dan lingkungan. Maka hal ini juga mendukung jargon Menteri Pendidikan Nadiem Makarim “merdeka belajar” dimana setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru.
    Tahap Pelaksanaan BDR Pembelajaran daring tingkat TK/PAUD dengan menggunakan metode Blended Learning tidak serta merta dilaksanakan tanpa perencanaan yang matang, berikut tahap pelaksanaan BDR yang dilakukan melalui tiga tahap:
  6. Tahap persiapan; tahapan ini dimulai dari memeriksa kondisi keluarga siswa, lalu memilih tipe belajar apakah daring, luring, atau belajar bauran (blended learning). Selanjutnya mempersiapkan anak, mempersiapkan orang tua, mempersiapkan rppm bertema, serta mempersiapkan panduan komunikasi antara guru dengan keluarga siswa.
  7. Tahap pelaksanaan; keluarga berdiskusi dengan anak mengenai kegiatan yang akan dikirimkan, keluarga juga mencari berbagai sumber belajar (buku, video, gambar terkait tema, dan lain sebagainya), anak merdeka mengikuti ide guru atau idenya sendiri, adanya interaksi, anak bermain, dan dokumentasi kegiatan.
  8. Tahap pasca pelaksanaan; keluarga melaporkan hasil BDR dengan mendokumentasikan kegiatan anak, anak diberikan kemerdekaan menyampaikan hasil kerjanya kepada guru, guru wajib menjawab setiap respon anak atau keluarga, guru melakukan penilaian pembelajaran & tracker story, selanjutnya mengevaluasi dan menindak lanjuti BDR yang telah dilakukan.
  9. Selain tiga hal di atas, lembaga juga perlu memberikan perangkat penguatan dengan cara menyiapkan perangkat pendukung yang diperlukan sesuai kondisi keluarga seperti Alat dan bahan sesuai perencanaan, Narasi/penjelasan/video pijakan sebelum main untuk anak,dan Narasi/ penjelasan/video/foto parenting untuk keluarga. Agar BDR ini dapat berhasil, kegiatan akan divariasikan setiap hari.
  10. Mulai dari setoran tugas yang biasanya dilakukan dengan panggilan video atau rekaman suara, peningkatan life skill dengan membantu pekerjaan orang tua di rumah, membuat berbagai hasil karya dengan bahan-bahan di sekitar lingkungan rumah, dan kegiatan fisik dengan alat-alat sedehana. Anak melakukan kegiatan didampingi keluarga yang kemudian di dokumentasikan dan dikirim ke guru. tidak ada tugas yang bersifat paksaan, semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan fleksibel. Karena itu dalam hal ini perencanaan, pelaksanaan, pasca pelaksanaan, hingga penilaian kegiatan perlu dibuat dengan maksimal oleh sekolah.
  11. Dari pengalaman penulis yang terlibat dalam pembuatan perangkat pembelajaran dan proses pembelajaran blanded Learning saya merasa Metode Blanded learning ini sangat bagus untuk anak usia dini. karena metode ini tidak hanya menyediakan pembelajaran di kelas, selain itu waktu, media, tempat, bervariasi sehingga membuat siswa tidak terpaku pada berbagai keterbatasan. Peserta didik juga tetap dapat berinteraksi dengan guru dan teman meski hanya melalui teknologi, namun interaksi dengan keluarga semakin erat.dan yang terpenting anak dapat mengobati rindu dengan guru saat pembelajaran dari rumah bersama orang tua dan guru saat melakukan kunjungan di musim pandemic ini tanpa mengabaikan protocol kesehatan. Semoga Anak usi Dini selalu Sehat, Cerdas dan Ceria.
    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here