Pasangan Mo-Novi Hadir Beri Solusi untuk Nelayan dan Petani Garam

0
77
Jhony Effendy, Ketua Umum Paguyuban Nelayan Lanra Kabupaten Sumbawa

Ibarat kata, sekali dayung dua tiga Pulau terlampaui. Itulah ungkapan yang dapat menggambarkan pasangan H.Mahmud Abdullah-Dewi Noviani (Mo – Novi) untuk nelayan Lanra dan Petani garam dari solusi yang diajukan oleh H.Mahmud Abdullah pada dialog 12 September 2020.

Pasalnya, dalam dialog tersebut, nelayan mengeluhkan serapan harga ikan yang anjlok dan keluhan petani garam yang tidak terserapnya ke pasar. Sehingga memberikan kesempatan pada pasangan Mo-Novi untuk berbuat lebih banyak dan membuat terobosan baru dalam mengatasi masalah tersebut.

Pasangan Mo – Novi dalam pilkada Sumbawa, menggusung proses industrialisasi yang memiliki nilai ekonomi sangat besar yang memberi dampak pada perputaran ekonomi daerah.

Tentu, ide dan gagasan pasangan Mo – Novi memilih industri pengeringan ikan sebagai bentuk solusi yang diberikan kepada Nelayan dan petani garam. Hal ini sangat diapresiasi oleh nelayan dan petani garam. Karena di Sumbawa sendiri, belum ada industri pengeringan ikan yang membantu distribusi hasil tangkapan Kelautan dan Perikanan Sumbawa.

Dalam penjelasannya, pasangan Mo – Novi memberikan gambaran mudah dalam proses pengeringan ikan, bahwa sebenarnya tidak selalu dilakukan dengan bantuan sinar matahari secara langsung (penjemuran) karena ikan dapat dikeringkan tanpa bantuan sinar matahari secara langsung contohnya melalui pengasapan ataupun pengovenan.

Lebih lanjut, pasangan Mo – Novi menjelaskan tentang market ekspor dan wilayah teluk saleh sebagai pusat pembelian serta distribusi bahan bakunya.

Tentu, wilayah tangkapan ikan Teluk Saleh, seperti Labangka, Labu Lalar, Labu Bertong, Poto Tano, Raja Kepe, Berang Tiram, Tero Jotang, Pulau Panjang, Pulau Bungin, Pulau Kaung, Labuhan Burung, Pulau Bajo, Labuhan Sumbawa, Teluk Alas, Desa Prajak hingga ke Pantai Pink Sape Bima, bahkan pulau ular menyimpan banyak bahan baku ikan kering.

Potensi ini membutuhkan kehadiran pusat industri pengeringan ikan yang ditopang oleh keberadaan mesin pengeringan untuk menunjang kegiatan industri pengeringan.

Gagasan pasangan Mo – Novi memberikan harapan gemilang kepada petani garam dan nelayan itu sendiri. Apalagi, pesisir Sumbawa belum ditemukan industri pengeringan ikan. Dampaknya, jelas akan ada penyerapan garam lebih besar dan hasil penangkapan ikan dari nelayan akan terserap lebih banyak.

Komitmen Pasangan Mo – Novi dalam dialog bersama nelayan pada Sabtu 12 September 2020 itu, mendorong industrialisasi pengeringan ikan di wilayah kecamatan Tarano dan menghadirkan teknologi khusus pengeringan ikan yang dapat digunakan pada semua jenis ikan air tawar maupun ikan laut.

Daerah Sumbawa, pengeringan ikan dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan matahari. Volume pengeringan sangat sedikit, bukan untuk industri. Tetapi untuk pasar-pasar tradisional. Bahkan mencukupi untuk makan.

H. Mahmud Abdullah dalam dialog ungkapkan “pemerintah daerah Sumbawa harus kembangkan industri pengeringan yang ditandai kehadiran mesin-mesin pengeringan. Penting bagi pemerintah untuk fasilitasinya, karena Sumbawa sendiri belum ada pengeringan yang menggunakan teknik mesin untuk mempercepat produksi.”

Padahal bahan baku yang tersedia untuk menunjang proses industrialisasi itu sangat mungkin dilakukan. Mengingat potensi ikan dan garam di Sumbawa sangat besar volume. Umumnya ikan yang dikeringkan beragam jenis.

Kita nanti gunakan Gudang Garam Labuhan Bontong yang kosong itu, agar lebih produktif dan maksimal dalam serapan garam. Keuntungan bisnis pada industri pengeringan ikan di Sumbawa sangat menggiurkan.

Prediksinya bisa mendapatkan puluhan miliar. Tentu syarat keuntungan besar dibarengi oleh sistem yang harus ditata terlebih dahulu, seperti menghitung kebutuhan pasar, pengiriman antar provinsi dan ekspor luar negeri.

Industrialisasi pengeringan ikan, kategori mendesak. Karena di Sumbawa, belum ada sama sekali. Pengeringan secara tradisional juga belum begitu banyak.

Ke depan, pemerintah daerah di bawah kepemimpinan pasangan H.Mahmud Abdullah – Dewi Noviyani harus mengakselerasi kehadiran industri pengeringan ikan dengan menggunakan sumber daya yang ada dan menciptakan basis distribusi garam Sumbawa.

Apabila, industri pengeringan ini menjamur di Sumbawa, maka garam – garam yang kategori kualitas rendah, maka bisa terserap di industri pengeringan ini. Tentu, solusi bagi petani garam yang selama ini, garamnya tidak bisa terjual, dimanfaatkan dan tidak bisa terdistribusi. Industri pengeringan sala satu solusi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here