Kenapa Industrialisasi Belum Terjadi?

0
66
OLEH:Boris Syaifullah, Pelaku Usaha di Jawa Barat, asal Sumbawa

Rumah Enterpreneur Bicara #1.
Menanggapi Bincang Santai di Majelis Dea Malela terkait “Modal Sosial Kebudayaan Samawa untuk Industrialisasi Tana Samawa”.

Awalnya kami mendapatkan undangan elektrik via WA dari saudara Poetra Adi Suryo untuk berpartisipasi dalam dialog Virtual berseri oleh Majelis Dea Malela. Memang luar biasa tema yang diangkat. Terlebih ada kaitannya dengan industrialisasi. 

Sebagai tau samawa dan juga pelaku Industri, saya merasa berkewajiban memberikan tanggapan tertulis ini untuk menambah wawasan kita semua. Saya mungkin tidak akan masuk ke ranah kebudayaan yang berbicara tentang modal sosial, sebab hal tersebut belum sepenuhnya bisa dijadikan rujukan. Masih debatable sifatnya. Sebab masih diperlukan banyak kajian-kajian akademis.

Jika kami tidak keliru menanggapi, modal sosial tersebut juga sudah selesai untuk dibicarakan bahwa kita tau samawa ini telah memiliki banyak parenti kalanis (yang sering disebutkan) untuk dapat menunjang eksistensi, kemandirian, hingga menghadirkan industrialisasi di tanah samawa.

Pertanyaan kami yang tidak terjawab semalam adalah, “Kenapa industrialisasi belum terjadi”?.

Sebagai pelaku usaha, tentu cara pandang kami tetap dalam koridor dan gerak pengusaha. Memang terlalu jauh kita memaknai industrialisasi. Seperti yang disampaikan Bang Zul, Gubernur NTB bahwa industri itu tidak identik dengan pabrikan besar, kemudian mesin-mesin yang besar. Menurut kami pribadi ini juga benar.

Tapi tidak bisa kemudian industri itu kita kerdilkan sebab sudah kodratnya dia berlangsung secara massal. Harapannya agar serapan bahan baku dasar, lokal, serta tenaga kerja lokal bisa diakomodir. 
Memang inilah yang harus dikejar oleh pemangku kebijakan untuk diselesaikan. Mulai dari inventarisir produk lokal yang berpotensi, sumber daya, rumusan kerja yang terarah, infrastruktur, gairah dan kemudahan investasi, dlsb.

Jika ini terjadi, saya meyakini bahwa kita tidak akan lagi berbicara banyak tentang kebijakan daerah, peraturan, dan gagasan sementara di sisi lain banyak dari masyarakat kita yang mengurus visa untuk bekerja di Luar Negeri.

Dalam notulensi pribadi kami, Narasumber sudah berusaha melihat dan memetakan potensi-potensi daerah yang sekiranya bisa ditindaklanjuti. Seperti potensi hasil bumi, potensi emas dan mangan, potensi kelautan dan perikanan, potensi zonasi wisata dan wilayah, bahkan potensi kebudayaan.

Tapi kembali, ini semua tidak cukup. Industri tetaplah industrialisasi yang masal, masif, dan suistanable. 
Sederhananya, kita harus berproduksi, bukan berdagang.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here