Perubahan Roster Kerja Dicurigai Jadi Jalan AMNT Kurangi Karyawan Lokal

0
68
Ilustrasi pekerja PTAMNT di lokasi tambang Batu hijau, Maluk, Sumbawa Barat.

TALIWANG- Sejumlah dugaan mulai mencuat ke public terkait perubahan roster kerja karyawan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Hingga kini, perusahaan tambang tembaga dan emas itu belum juga memberikan penjelasan resmi, alasan terkait perubahan ini.

Salah satu dugaan yang mencuat itu adalah, perubahan roster kerja ini bagian dari upaya perusahaan untuk mengurangi karyawan lokal pKabupaten Sumbawa Barat.

Selama perusahaan tidak memberikan keterangan atau penjelasan kepada pemerintah dan publik secara umum, maka berbagai persepsi dan dugaan akan muncul atas kebijakan perusahaan menambah waktu kerja. “Termasuk di antaranya bagian dari upaya mengurangi tenaga kerja lokal KSB,” tegas Dr. Zulkarnain, akademisi sekaligus pemerhati Sumbawa Barat ini, kemarin.

Akademisi kelahiran Fajar Karya, Kecamatan Brang Ene yang kini menjadi Dosen Universitas Negeri Yogyakrata (UNY) itu menilai, memo yang dikeluarkan managemen PT. AMNT nomor 029/GMO-WR/AMNT/VI/2020 perihal penyesuaian jadwal roster, tidak memberikan penjelasan dan pertimbangan mendasar sampai harus menambah jumlah waktu kerja. Dirinya juga mendesak, pemerintah segera mengambil sikap atas memo yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

Pemerintah harus mengambil sikap atas memo ini. Ini harus direspons cepat, mengingat memo ini akan semakin memunculkaan dugaan-dugaan lain, ingatnya.

Perusahaan dalam memo tersebut mengaku jika kebijakan roster kerja diambil setelah melihat jumlah kasus positif Covid-19 yang terus meningkat. Untuk itu, perusahaan melakukan upaya tambahan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh karyawan dan keluarga, salah satunya dengan melakukan penyesuaian jadwal roster. Kita butuh penjelasan detail. Kenapa, karena roster kerja yang diterapkan sebelumnya sudah menjadi upaya meretas penyebaran Covid-19 dalam lingkungan kerja, katanya.


Kebijakan perubahan roster kerja inipun tentu saja akan sangat berat bagi para pekerja. Padahal, kebijakan sebelumnya saja, itu sudah sangat memberatkan. Ini sama halnya dengan semakin mempersulit tenaga kerja, tandasnya.

Zulkarnain melihat, sejauh ini pekerja lokal KSB merasa dilema dalam menentukan sikap atas kebijakan baru perusahaan. Pada satu sisi mereka ingin terus bekerja dalam perusahaan tambang, tetapi pada sisi lain memikirkan kebutuhan dan perhatian kepada keluarga. Bisa dibayangkan harus berpisah dengan keluarga lebih dari dua bulan. Mereka bekerja selama delapan pekan, dua pekan menjalani karantina, tambahnya.

Riak-riak penolakan terhadap roster kerja baru ini sebenarnya mulai terlihat. Terutama oleh para pekerja. Hanya saja, mereka tidak berani menyampaikan secara terbuka mengingat adanya konsekwensi yang harus diterima. “Inilah kenapa kita juga meminta pemerintah segera bersikap. Karyawan itu saat ini menunggu respon pemerintah saja menanggapi hal tersebut,” tambahnya.

Head Of Corporate Communication PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Kartika Octaviana yang diklarifikasi mengatakan, saat ini pihaknya sedang berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat. “Segera setelah kami berkomunikasi dgn pemerintah, saya akan rilis statement yah. Dalam 1-2 hari ini saya kabari. Monggo nanti kontak lg saya yah pak. Dasar2 pertimbangan sudah ada,” tegasnya. (far/jar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here